TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka (ASR) mengungkapkan alasan mendalam di balik keputusannya memimpin provinsi tersebut, termasuk kebijakan pribadinya yang tidak mengambil gaji dan dana operasional selama menjabat.
Dalam pernyataannya pada Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (PSBM) XXVI yang digelar di salah satu hotel Makassar pada Kamis (26/3/2026), ASR menyebut ada dua alasan utama yang mendorongnya memilih menjadi gubernur di Sultra.
Alasan pertama berkaitan dengan sejarah keluarganya. Ia menceritakan bahwa sang ayah, seorang perwira berpangkat kapten, pernah ditugaskan di wilayah terpencil di Pulau Wawonii sebagai camat.
“Wawonii itu jauh sekali, harus ditempuh dengan perahu. Kalau ada angin mungkin satu hari sampai, kalau tidak, bisa berhari-hari. Yang luar biasa, orang tua saya membawa delapan anak ke sana,” ungkapnya.
Selama sekitar tiga setengah tahun bertugas di wilayah tersebut, orang tuanya menjalani pengabdian dengan berbagai keterbatasan. Setelah itu, sang ayah kembali dan sempat menjabat sebagai ketua DPRD. Namun, menurut ASR, jabatan tersebut di masa itu tidak memberikan banyak fasilitas seperti sekarang.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi dirinya. Ia mengaku memiliki dorongan kuat untuk membalas kebaikan masyarakat Sultra yang pernah membantu keluarganya.
“Saya menjadi gubernur karena ingin membalas kebaikan orang-orang Sultra kepada keluarga saya,” ujar ASR.
Alasan kedua adalah nilai pengabdian yang ia pelajari selama menempuh pendidikan di Akademi Militer. Ia menegaskan prinsip yang selalu dipegangnya, yakni tidak bertanya apa yang didapat dari negara, melainkan apa yang bisa diberikan untuk negara.
Berbekal prinsip tersebut, ASR mengaku fokus pada upaya memutus rantai kemiskinan yang terjadi secara turun-temurun di masyarakat.
“Kita sering melihat kemiskinan itu berulang dari generasi ke generasi. Ini yang harus diputus. Kemiskinan bukan takdir, dan harus diubah dengan kerja dan kesadaran,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen pengabdian, ASR menyatakan tidak mengambil gaji maupun dana operasional selama menjabat sebagai gubernur. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari pemimpin.
“Kalau ingin memperbaiki organisasi, harus dimulai dari kepala. Filosofinya seperti ikan, yang pertama dilihat itu matanya. Kalau kepala rusak, maka seluruh badan ikut rusak,” jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa integritas pemimpin menjadi kunci utama dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan efektif.
Penulis: Tim Redaksi
