TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Sudut Kota Baubau yang hangat oleh semilir angin laut, seorang gadis kecil bernama Arsyila Diza Hanifa Jalil menata langkahnya di depan cermin. Matanya berbinar seolah panggung besar telah menantinya.
Dari kota kecil di Sulawesi Tenggara (Sultra), mimpi itu kini benar-benar menjelma nyata: Cila, begitu ia akrab disapa, menjadi Runner Up 5 Grand Model Indonesia 2026.
Perjalanan bocah kelahiran Baubau, 14 Mei 2018 itu bukan kisah instan. Sejak usia lima tahun, dunia catwalk telah memikat hatinya. Modelling dan dance menjadi dua hal yang tak terpisahkan dari kesehariannya.
“Awalnya cuma ikut lomba fashion show di Baubau. Lama-lama Cila makin percaya diri dan ketagihan tampil,” tutur ibundanya, Rina, yang setia mendampingi setiap langkah putrinya.
Dukungan keluarga mengantarkan Cila bergabung di kelas QQ Modelling Baubau dan Catthewalk Kendari. Dari sana prestasi demi prestasi mulai terukir, juara 1 berbagai lomba fashion show di Baubau, hingga keberanian mencoba panggung yang lebih besar di Kendari.
Puncaknya terjadi pada Desember 2025, saat ia dinobatkan sebagai Mini Miss Sulawesi Tenggara. Gelar itu otomatis membuka jalan baginya mewakili Sultra di ajang nasional Grand Model Indonesia 2026 di Jakarta.
“Perasaannya campur aduk, senang sekaligus bangga bisa mewakili Sulawesi Tenggara,” ujar Cila.

Menuju panggung nasional, hari-harinya dipenuhi persiapan ekstra. Ia tak hanya mengasah catwalk, tetapi juga belajar public speaking bersama pelatih Uncle Eldrick di Kendari.
Tantangan lain adalah sesi promosi wisata daerah Baubau yang menuntutnya berbicara percaya diri di depan juri. Belum lagi karantina lima hari dengan jadwal padat yang menguji fisik dan mental.
Di ajang tersebut, Cila juga menampilkan tarian daerah yang dipersiapkan bersama Sanggar Seni Wisjayanti Baubau. Bagi keluarga, itu bukan sekadar kompetisi kecantikan anak, melainkan ruang memperkenalkan budaya Sultra ke panggung nasional.
“Ini langkah awal untuk masa depan Arsyila. Ia membawa nama daerah, jadi kami ingin yang ditampilkan bukan hanya cantik, tapi juga berkarakter,” kata Rina.
Di balik gaun gemerlap dan lampu sorot, Cila tetaplah anak kelas 2 SD dengan cita-cita sederhana namun mulia: menjadi dokter. Dunia modelling baginya adalah ruang belajar percaya diri, disiplin, dan berani bermimpi.
Setelah menyandang gelar Runner Up 5, semangatnya justru kian menyala. Ia bertekad terus berlatih, mengikuti berbagai event fashion show, memperkuat kemampuan bahasa Inggris, serta mengasah public speaking.
Mimpi terbesarnya kini terbentang lebih jauh, tampil di panggung fashion internasional.
Kisah Cila menjadi pengingat bahwa bakat, jika dirawat dengan dukungan dan kerja keras, bisa tumbuh melampaui batas kota kecil sekalipun.
Dari Baubau, langkah mungil itu telah menggema hingga Jakarta. Dan mungkin suatu hari nanti, dunia akan mengenal nama Arsyila, gadis yang berani mengejar mimpi dengan senyum percaya diri.
Penulis: Tim Redaksi
