TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Mahasiswa baru Teknik Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan (RIL), Fakultas Teknik (FT), Universitas Halu Oleo (UHO) diajak memahami identitas keilmuan, membangun solidaritas, hingga membaca tantangan dunia kerja melalui kegiatan Pra Fountain yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan (HIMATRIL) pada 22–24 Mei 2026.
Kegiatan tahunan tersebut menjadi gerbang awal pengkaderan bagi mahasiswa angkatan 2025 sebelum memasuki tahapan Fountain sebagai agenda lanjutan di lingkungan teknik RIL.
Tahun ini, Pra Fountain mengangkat tema “Integrasi Karakter Tangguh dan Intelektual Teknik Menuju Infrastruktur Berkelanjutan yang Responsif”. Tema tersebut dipilih untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia teknik yang kini semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan isu lingkungan.
Ketua Panitia Pra Fountain, Aryanto Wua, mengatakan, kegiatan itu dirancang bukan hanya untuk memperkenalkan organisasi kemahasiswaan, tetapi juga membangun hubungan antarmahasiswa sejak awal perkuliahan.
Menurutnya, proses pengkaderan perlu diarahkan pada pembentukan karakter dan rasa kebersamaan agar mahasiswa memiliki fondasi kuat selama menjalani pendidikan.
“Pra Fountain ini menjadi ruang membangun kerja sama, solidaritas, dan ikatan emosional antarmahasiswa baru Teknik RIL angkatan 2025,” ujarnya.

Selain penguatan karakter, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai tantangan dunia teknik RIL yang terus berkembang.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Teknik RIL Fakultas Teknik UHO, Dr. Ir. Ranno Marlany Rachman, S.T., M.Kes., mengatakan, mahasiswa perlu memahami bahwa persoalan lingkungan di masa depan tidak lagi dapat diselesaikan dengan pendekatan konvensional.
Kata dia, kemajuan teknologi menuntut calon insinyur memiliki kemampuan lintas bidang dan penguasaan sistem digital. Mahasiswa didorong mulai mengenal teknologi seperti Building Information Modeling (BIM), kecerdasan buatan atau AI, pengolahan air limbah, hingga sistem pengelolaan sampah.
Menurut Ranno, kemampuan tersebut akan menjadi kebutuhan penting, terutama menghadapi dinamika pembangunan dan aktivitas pertambangan di Sulawesi Tenggara (Sultra).
“Mahasiswa RIL nantinya diharapkan mampu mencari solusi atas persoalan lingkungan, termasuk dampak pembangunan dan aktivitas pertambangan yang terus berkembang,” katanya.
Ranno juga menepis anggapan bahwa teknik RIL memiliki ruang kerja terbatas. Justru sebaliknya, bidang tersebut dinilai memiliki peluang besar karena kebutuhan tenaga ahli lingkungan dan pembangunan berkelanjutan terus meningkat.

Di sisi lain, Ketua HIMATRIL, Dadang Efendy mengatakan, materi Pra Fountain disusun berdasarkan kebutuhan mahasiswa baru. Menurutnya, banyak mahasiswa yang masih belum memahami arah keilmuan teknik RIL maupun peran yang akan mereka jalani selama masa studi.
Karena itu, peserta dibekali pengenalan alat surveyor, pengembangan kemampuan akademik, hingga manajemen waktu.
“Kami ingin mereka memahami posisi dan arah mereka di teknik RIL, termasuk keterampilan dasar yang akan digunakan selama kuliah dan saat turun ke lapangan,” ujarnya.
Pra Fountain tahun ini pun tidak hanya menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi berubah menjadi ruang awal membentuk calon insinyur yang diharapkan mampu menjawab tantangan pembangunan infrastruktur dan lingkungan di masa depan. (Adv)
Penulis: Tim Redaksi
