TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) secara resmi memberangkatkan jemaah calon haji (JCH) tahun 2026 melalui prosesi pelepasan di Asrama Haji Sultra pada Selasa (5/5/2026).
Agenda tahunan ini tak sekadar seremoni keberangkatan, tetapi juga menjadi momentum penguatan komitmen pelayanan haji yang lebih humanis. Secara bertahap, jemaah haji Sultra akan diberangkatkan ke Embarkasi Makassar mulai 12 Mei 2026.
Ratusan jemaah asal Kota Kendari mengikuti pelepasan secara langsung, sementara calon jemaah dari daerah lain di Sultra terhubung melalui daring. Format itu memungkinkan seluruh peserta tetap terlibat dalam momen pelepasan sebelum menuju embarkasi.
Pada kesempatan itu, sambutan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, dibacakan oleh Asisten I Setda Sultra, Pahri Yamsul. Dalam pesannya, gubernur menyoroti pentingnya penyelenggaraan ibadah haji yang lebih ramah bagi seluruh lapisan jemaah.
Menurutnya, pemerintah terus mengembangkan sistem pelayanan berbasis inklusivitas, terutama bagi lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan. Kelompok itu dinilai membutuhkan perhatian khusus agar dapat menjalankan rangkaian ibadah secara optimal.
“Pelayanan haji tidak cukup hanya tertib secara administrasi, tetapi juga harus adil, manusiawi, dan penuh empati,” kata Pahri saat menyampaikan pesan gubernur.
Ia menambahkan, mayoritas jemaah haji Indonesia saat ini berasal dari kelompok usia lanjut. Karena itu, peran petugas menjadi sangat vital dalam memastikan jemaah memperoleh pendampingan maksimal selama di tanah suci.
Seluruh petugas haji diminta menghadirkan pelayanan terbaik dengan sikap sabar dan penuh tanggung jawab. Pemerintah berharap, pelayanan prima dapat membuat jemaah merasa aman, nyaman, serta lebih fokus beribadah.
Tak hanya soal kesiapan fisik dan teknis, gubernur juga mengingatkan jemaah agar menjadikan perjalanan haji sebagai ruang memperkuat spiritualitas. Ia mengajak seluruh jemaah mengisi waktu di Tanah Suci dengan memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan amal kebajikan lainnya.
Lebih dari itu, ibadah haji disebut sebagai perjalanan pembentukan karakter. Jemaah diharapkan pulang membawa perubahan nyata, baik dalam kualitas ibadah maupun perilaku sosial di tengah masyarakat.
“Haji mabrur tercermin dari pribadi yang lebih jujur, amanah, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Itu yang harus dijaga setelah kembali ke daerah,” tutupnya.
Penulis: Tim Redaksi
