OJK: Kinerja Perbankan Sultra Terus Menguat, Aset Tembus Rp61,68 Triliun pada Awal 2026

Bincang Jasa Keuangan (BIJAK) di Kendari, Kamis (5/3/2026). (Istimewa)

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI Industri perbankan di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengawali 2026 dengan kinerja yang tetap positif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sultra mencatat pertumbuhan aset, penghimpunan dana masyarakat, hingga penyaluran kredit masih berada pada jalur ekspansi, mencerminkan ketahanan sektor jasa keuangan di tengah dinamika ekonomi.

Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan industri perbankan tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di daerah. Paparan itu disampaikan dalam kegiatan Bincang Jasa Keuangan (BIJAK) di Kendari, Kamis (5/3/2026).

Berdasarkan data posisi Januari 2026, total aset perbankan di Sultra mencapai Rp61,68 triliun, meningkat 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp33,64 triliun atau tumbuh 5,9 persen secara tahunan, serta penyaluran kredit yang mencapai Rp42,72 triliun, naik 5,1 persen.

Baca Juga :  OJK Sultra Perkuat Literasi Investasi Syariah, Puluhan ASN Kemenag Kendari Dibekali Cara Hindari Investasi Bodong

Menurut Bismi, kualitas pembiayaan perbankan juga masih berada pada level yang sehat. Hal itu tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,10 persen, yang masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator. Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 126,59 persen, menandakan aktivitas intermediasi perbankan masih berjalan dengan baik.

“Kinerja perbankan kita tetap ekspansif. Pertumbuhan aset didorong oleh penguatan Dana Pihak Ketiga dan penyaluran kredit yang tetap tumbuh positif di tengah dinamika ekonomi awal tahun,” ujar Bismi.

Baca Juga :  BPR Bahteramas Bombana dan Pemda Bersinergi Cetak Generasi Kreatif Melalui Gebyar PAUD

Dari sisi penghimpunan dana, masyarakat Sultra masih lebih banyak menempatkan dananya dalam bentuk tabungan yang porsinya mencapai 65,3 persen dari total DPK. Sementara itu, deposito berkontribusi 18,7 persen dan giro sebesar 16 persen.

Meski demikian, OJK mencatat penghimpunan dana masih terkonsentrasi di Kota Kendari. Nilai DPK di ibu kota provinsi tersebut mencapai Rp20,46 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten dan kota lainnya.

Kondisi itu menunjukkan masih adanya kesenjangan inklusi keuangan dan distribusi likuiditas antarwilayah di Sultra.

Di sisi pembiayaan, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi salah satu fokus perbankan. Hingga Januari 2026, penyaluran kredit kepada pelaku UMKM tercatat mencapai Rp15,27 triliun atau tumbuh 4,73 persen secara tahunan. Nilai tersebut setara dengan 35,29 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan di Sultra.

Baca Juga :  Kerugian Kasus AMG Pantheon di Kepulauan Buton Ditaksir Capai Rp130 Miliar

Namun, secara keseluruhan penyaluran kredit masih didominasi sektor konsumsi dengan porsi 57,30 persen. Karena itu, OJK Sultra mendorong perbankan meningkatkan pembiayaan pada sektor produktif, terutama kredit modal kerja dan investasi, agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

Dengan indikator perbankan yang tetap terjaga, OJK optimistis industri jasa keuangan akan terus menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Sultra sepanjang 2026 melalui peningkatan intermediasi, perluasan akses pembiayaan, serta penguatan inklusi keuangan di seluruh wilayah.

Laporan: Ismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *