TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Hitung mundur menuju Iduladha 1447 Hijriah terus berjalan. Namun suasana di lapak penjualan kambing kurban di Kota Kendari belum seramai tahun sebelumnya.
Bukan karena stok berkurang atau pasokan tersendat, melainkan ritme kedatangan pembeli yang berubah.
Jika biasanya transaksi mulai ramai sejak sepekan sebelum Iduladha, tahun ini para pedagang justru baru merasakan peningkatan pembelian dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena itu dirasakan Ardi (39), pemilik Jaya Kambing yang membuka lapak musiman di Jalan Bunggasi, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia. Menurutnya, pasar hewan kurban tahun ini bergerak lebih lambat dibanding Iduladha sebelumnya.
“Kalau tahun lalu seminggu sebelum lebaran sudah ramai. Sekarang pembeli baru mulai datang beberapa hari ini,” katanya, Senin (25/5/2026).
Perubahan itu membuat pedagang ikut menyesuaikan strategi. Ardi mengaku memilih mengurangi jumlah pasokan karena tidak ingin mengambil risiko penumpukan stok.
Pada Iduladha tahun lalu, ia mampu menyiapkan lebih dari 300 hingga hampir 400 ekor kambing. Sementara tahun ini stok yang disediakan hanya sekitar 200 ekor lebih.
Meski begitu, lapaknya saat ini masih memiliki total sekitar 250 ekor kambing yang dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan kurban masyarakat.
Pasokan tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan hingga Konawe Selatan. Seluruh hewan yang dijual telah memenuhi syarat usia kurban, yakni minimal satu tahun.
Harga pun disesuaikan berdasarkan ukuran.
Kambing kategori standar dijual mulai Rp2,5 juta, sedangkan ukuran besar bisa menembus lebih dari Rp6 juta per ekor.
Di tengah perlambatan pasar, pola pembelian masyarakat juga ikut berubah. Ardi menyebut konsumen kini lebih banyak memburu kambing dengan harga menengah dibanding ukuran premium. Menurutnya, banyak pembeli mulai menghitung ulang anggaran sebelum menentukan pilihan.
“Yang banyak dicari sekarang ukuran standar. Mungkin masyarakat lebih menyesuaikan kondisi keuangan,” ujarnya.
Pada awal masa penjualan, transaksi di lapaknya sempat berjalan sangat pelan.
Dalam sehari, kambing yang terjual hanya satu sampai dua ekor. Baru dalam dua hari terakhir permintaan mulai bergerak dan penjualan sempat mencapai 10 hingga 20 ekor per hari.
Walau belum menyamai capaian tahun sebelumnya, jumlah kambing yang berhasil terjual tetap cukup besar. Sekitar 180 ekor telah dibeli masyarakat, sementara sisanya masih menunggu pasar menjelang hari raya.
Ardi melihat perlambatan ini bukan berarti minat berkurban menurun.
Ia menilai masyarakat hanya mengubah waktu dan pola pembelian. Jika sebelumnya transaksi dilakukan lebih awal, kini banyak warga memilih menunggu hingga mendekati Iduladha.
“Pembelinya masih ada, cuma waktunya lebih mundur dibanding tahun lalu,” ungkapnya.
Ia pun berharap pergerakan pasar terus meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring mendekatnya pelaksanaan kurban.
Sebab, periode menjelang hari H biasanya menjadi fase paling sibuk bagi pedagang hewan kurban di Kendari.
Penulis: Tim Redaksi
