TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Kakao Kolaka Utara (Kolut) didorong tidak lagi sekadar dikenal sebagai komoditas bahan mentah. Penguatan rantai pasok diarahkan agar kakao dari daerah tersebut memiliki identitas mutu dan karakter yang dapat dikenali hingga pasar global.
Gagasan itu menjadi salah satu sasaran dalam perluasan Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) komoditas kakao yang mulai dipersiapkan Otoritas Jada Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama sejumlah pemangku kepentingan.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha mengatakan, pengembangan ekosistem akan diarahkan agar biji kakao tidak kehilangan identitas ketika masuk ke dalam rantai perdagangan.
“Karena itu, standardisasi proses menjadi bagian penting dalam penguatan komoditas itu. Kakao Kolaka Utara diharapkan memiliki profil cita rasa dan asal-usul yang jelas,” ujarnya.
Upaya membangun identitas tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak di sepanjang rantai pasok, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Bank Indonesia (BI) Sultra, Bank Sultra, PNM, Pegadaian, BPJS Ketenagakerjaan dan offtaker PT Comextra Majora ikut dilibatkan dalam penguatan ekosistem.
Masing-masing sektor diarahkan memberikan dukungan sesuai perannya. Dukungan tersebut mencakup modernisasi dan permodalan di tingkat hulu, perlindungan jaminan sosial petani, standardisasi ekspor hingga kepastian pasar di hilir.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah kakao sekaligus memperkuat posisi produk asal Kolaka Utara.
Dengan ekosistem yang terintegrasi, kakao daerah tidak hanya dijual berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan kualitas, karakter dan nilai yang melekat pada produknya.
Penguatan identitas Kakao Kolaka Utara selanjutnya diharapkan membuka peluang bagi komoditas tersebut untuk memiliki daya saing lebih kuat di pasar global.(*)
Laporan: Ismu
