TOLANOSULTRA.COM, BEKASI – Tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi keuangan nasional telah mencapai 69,57 persen, sementara inklusi keuangan berada di angka 93,61 persen.
Capaian tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam puncak peringatan Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Kata dia, meski capaian nasional telah melampaui target yang ditetapkan, OJK melihat masih terdapat tantangan pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Tingkat literasi dan inklusi keuangan pada segmen tersebut dinilai masih berada di bawah capaian nasional.
“Karena itu, penguatan edukasi keuangan sejak usia sekolah menjadi salah satu perhatian OJK bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, industri jasa keuangan, satuan pendidikan, hingga keluarga,” ucapnya.
Kegiatan HIM dan BLK 2026 mengusung tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”. Program tersebut menjadi bagian dari kampanye berkelanjutan untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan sekaligus memperluas akses terhadap layanan keuangan.
OJK juga terus mendorong Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) sebagai salah satu instrumen untuk membangun kebiasaan menabung sekaligus memperkenalkan layanan keuangan kepada generasi muda.
Upaya memperluas literasi dan inklusi keuangan tersebut diarahkan untuk mendukung target inklusi keuangan nasional sebesar 98 persen pada 2045 sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).
Melalui penguatan edukasi sejak bangku sekolah, generasi muda diharapkan tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga memahami cara mengelola uang secara bijak dan bertanggung jawab.(*)
Laporan: Ismu
