Inflasi Sultra Agustus 2026 Turun, Harga Sejumlah Bahan Pangan Mulai Melandai

Hadi Susanto

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Perkembangan harga kebutuhan masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan pergerakan positif pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat daerah ini mengalami deflasi 0,31 persen dibandingkan Juli 2026.

Kepala BPS Sultra Hadi Susanto menyampaikan, meski terjadi penurunan harga secara bulanan, secara tahunan Sultra masih mengalami inflasi sebesar 3,35 persen. Sementara inflasi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat 4,02 persen.

“Penurunan harga pada Agustus terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 1,25 persen dan memberikan andil terbesar terhadap deflasi Sultra, yakni 0,41 persen,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (1/9/2026).

Baca Juga :  OJK Sultra Nyatakan Aplikasi BTL Ilegal, Warga Diminta Tak Terjebak Modus Investasi Baru

Beberapa bahan pangan yang mengalami penurunan harga menjadi pemicu utama kondisi tersebut. BPS mencatat tomat, ikan layang atau ikan benggol, dan kangkung sebagai komoditas yang turut menekan inflasi pada Agustus 2026.

Selain pangan, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami penurunan harga sebesar 0,21 persen, dengan andil deflasi 0,02 persen. Salah satu komoditas yang berpengaruh adalah bahan bakar rumah tangga.

Meski sebagian kebutuhan mengalami penurunan, sejumlah komoditas justru mencatat kenaikan harga. Kelompok pendidikan menjadi salah satu yang paling menonjol dengan inflasi bulanan sebesar 1,09 persen dan memberikan andil 0,05 persen.

Baca Juga :  OJK Sultra Gencarkan Literasi Keuangan, Edukasi 210 Ribu Warga untuk Perkuat Perlindungan Konsumen

Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan dimulainya tahun akademik 2026/2027 pada Agustus. Beberapa komoditas pendidikan, termasuk biaya akademi atau perguruan tinggi, turut mengalami kenaikan.

Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas lainnya, seperti kacang panjang, tarif angkutan udara, telepon seluler, daun singkong, pelumas atau oli mesin, susu kental manis, telur ayam ras, mentimun dan cabai rawit.

Jika dilihat secara tahunan, tekanan inflasi Sultra masih cukup terasa pada kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 6,66 persen dan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,02 persen.

Baca Juga :  BPS Pastikan Data Pelaku Usaha dalam Sensus Ekonomi Dijamin Rahasia

Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, tarif angkutan udara, bensin, minyak goreng dan susu kental manis.

Di tingkat kabupaten/kota, Kendari mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,66 persen. Berikutnya Kolaka 3,60 persen dan Baubau 3,12 persen. Sementara Konawe menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah, yakni 2,48 persen.

Data tersebut menunjukkan harga sejumlah bahan pangan mulai melandai pada Agustus 2026 sehingga mampu membawa Sultra mengalami deflasi secara bulanan. Namun, secara tahunan kenaikan harga masih terjadi dan terutama dipengaruhi sektor transportasi serta sejumlah kebutuhan masyarakat.(*)

Laporan: Ismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *