TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Kenaikan harga Pertamax di SPBU ternyata membawa kejutan bagi seorang pedagang bensin eceran di Kota Kendari. Tanpa mengetahui adanya penyesuaian harga yang diberlakukan Pertamina, ia mendapati Pertamax yang dijualnya mendadak lebih laris dibanding hari-hari biasanya.
Rani (42), pengecer bensin di Jalan Malaka, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, mengaku sempat heran ketika seorang pelanggan membeli Pertamax hingga tiga botol sekaligus pada Rabu (10/6/2026).
Padahal, selama ini Pertamax bukan jenis BBM yang paling diminati di lapaknya. Dalam sehari, penjualan Pertamax umumnya hanya satu hingga dua botol, bahkan terkadang tidak sampai habis terjual.
“Baru hari ini ada yang beli sampai tiga botol,” ujar Rani.
Saat itu, Rani masih menjual Pertamax dengan harga Rp15 ribu per liter. Ia sama sekali belum mengetahui bahwa harga Pertamax di SPBU telah resmi naik mulai hari itu.
Menurutnya, informasi mengenai kenaikan harga justru diperoleh dari pelanggan yang datang membeli BBM di kiosnya. Dari situlah ia mengetahui harga Pertamax telah melonjak dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter.
Mendengar kabar tersebut, Rani langsung memahami alasan mengapa Pertamax di lapaknya tiba-tiba diburu pembeli. Harga yang masih menggunakan tarif lama membuat konsumen memilih membeli di tingkat eceran sebelum harga ikut disesuaikan.
“Pantas laris, karena di SPBU sudah naik pale,” katanya.
Tak berselang lama, Rani kemudian menaikkan harga jual Pertamax menjadi Rp17.500 per liter. Langkah itu dilakukan untuk menyesuaikan harga pembelian di SPBU sekaligus menutup biaya operasional usaha yang dijalankannya.
Meski telah melakukan penyesuaian, ia mengaku belum bisa memastikan apakah harga tersebut akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, harga di tingkat pengecer sangat bergantung pada biaya pengadaan BBM.
“Kalau nanti naik lagi di tingkat eceran, kita belum tahu. Bisa saja lebih dari Rp17.500 karena tidak mungkin kita jual di bawah modal,” ungkapnya.
Di tengah lonjakan harga, Rani menilai Pertamax masih kalah populer dibandingkan Pertalite. Sebagian besar pelanggan tetap memilih BBM subsidi karena lebih terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari.
Ia menyebut penjualan Pertamax di lapaknya rata-rata hanya sekitar lima liter per hari dan jarang mencapai 10 liter.
“Kalau Pertamax memang tidak sebanyak Pertalite. Kadang yang terjual cuma sekitar lima liter sehari,” tuturnya.
Penulis: Tim Redaksi
