Kisah Wa Ode Faeda, Pergi Umrah Dua Kali dari Hasil Jualan Bensin Eceran

Wa Ode Faeda (75)

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI Di sudut SPBU Anduonohu, seorang perempuan lanjut usia masih setia menjaga lapak bensin ecerannya. Di tengah terik matahari maupun hujan yang turun bergantian, ia tetap melayani pembeli dengan ramah.

Namanya Wa Ode Faeda. Usianya 75 tahun. Tak banyak yang tahu, dari usaha sederhana menjual bensin eceran itulah ia berhasil mewujudkan impian besar yang selama ini hanya ada dalam angan-angannya: menunaikan ibadah umrah sebanyak dua kali.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa mimpi tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh niat, ketekunan, dan keyakinan yang dijaga selama bertahun-tahun.

Menjalani Berbagai Pekerjaan Demi Bertahan Hidup

Jauh sebelum dikenal sebagai penjual bensin eceran, Wa Ode Faeda telah merasakan kerasnya perjuangan hidup. Perempuan asal Muna itu datang ke Kendari saat berusia sekitar 25 tahun dan menetap hingga sekarang di Lorong Jambu, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia.

Di kota inilah ia membangun keluarga, membesarkan anak-anaknya, dan mencari nafkah dengan berbagai pekerjaan.

“Dulu saya kerja di bangunan, pikul rotan, jual ikan. Tinggal mencuri yang saya tidak pernah lakukan,” kenangnya saat ditemui di lapak bensinnya pada Rabu (10/6/2026).

Ia mengaku pernah mencoba berbagai usaha demi memenuhi kebutuhan keluarga. Namun hasil yang diperoleh sering kali tidak menentu.

Dari delapan anak yang dilahirkannya, satu telah meninggal dunia. Kini tujuh anak menjadi bagian dari perjalanan panjang hidupnya yang penuh perjuangan.

Memilih Menjual Bensin Saat Usaha Lain Tak Menjanjikan

Sekitar 15 tahun lalu, Wa Ode Faeda mulai menjual bensin eceran. Keputusan itu diambil setelah usaha lain yang dijalankannya tidak memberikan hasil yang cukup. Ia bahkan sempat menanam sayuran untuk dijual, namun pembelinya tidak banyak.

Baca Juga :  Pasar Kambing Kurban di Kendari Kurang Bergairah

“Menjual bensin ini memang pilihan. Saya tanam sayur juga tidak laku. Suami saya waktu itu lebih banyak urus kebun,” ujarnya.

Saat pertama berjualan, jenis bahan bakar yang dijual masih terbatas. Belum ada Pertalite maupun Pertamax seperti sekarang.

“Dulu cuma ada bensin yang warna kuning sama solar,” katanya.

Sementara itu, keinginan untuk pergi ke Tanah Suci muncul dari sebuah percakapan yang tidak disengaja. Suatu hari, seorang pembeli berbincang dengan adiknya yang menjaga lapak bensin.

Dalam percakapan itu, sang pembeli bercerita tentang seseorang yang berhasil berangkat haji hanya dengan menabung Rp12 ribu setiap hari selama beberapa tahun. Cerita tersebut terus terngiang di benak Wa Ode Faeda. Sejak saat itu, sebuah niat besar mulai tumbuh dalam hatinya.

“Saya berpikir, bagaimana bisa orang pergi haji hanya menabung sedikit begitu. Dari situ saya mulai membayangkan bagaimana rasanya orang pergi haji dan umrah,” tuturnya.

Kantong Hitam yang Menjadi Saksi Perjuangan

Tidak ada rekening khusus. Tidak ada investasi besar. Wa Ode Faeda hanya memiliki sebuah kantong hitam yang kemudian menjadi tempat menyimpan impiannya. Setiap kali mendapatkan hasil penjualan pertama dalam sehari, uang tersebut langsung dipisahkan.

“Mau Rp100 ribu atau Rp200 ribu, saya langsung lipat dan masukkan ke kantong hitam. Saya tidak pernah buka lagi,” katanya.

Baca Juga :  Komunitas Abu Langit Tambal Lubang Jalan di Kendari Pakai Dana Pribadi, Sudah Terlaksana di 4 Kelurahan

Uang yang sudah masuk ke kantong itu dianggap tidak ada lagi. “Biar tidak ada uang di rumah, saya tidak boleh ambil itu. Saya anggap sudah habis,” ujarnya.

Hari demi hari berlalu. Kantong hitam itu perlahan semakin penuh. Tanpa disadari, tabungan kecil yang dikumpulkan dari hasil jualan bensin mulai mendekatkan dirinya pada impian yang selama ini dianggap mustahil.

Saat tabungannya dirasa cukup, Wa Ode Faeda mulai mencari informasi tentang biaya umrah. Ia bertanya kepada tetangga yang baru pulang dari Tanah Suci. Dari sanalah ia mengetahui biaya perjalanan berkisar antara Rp25 juta hingga Rp40 juta, tergantung fasilitas yang dipilih.

Namun ada satu hal yang membuatnya khawatir. Ia takut menjadi korban penipuan travel.

“Saya tidak tahu tempat mendaftarnya. Saya takut ditipu,” katanya.

Beruntung, seorang kerabat yang tinggal di lorong yang sama bersedia mengantarnya mendaftar di biro perjalanan yang terpercaya. Biaya umrah saat itu sekitar Rp25 juta.

Setelah resmi terdaftar, ia mulai mengikuti manasik dan mempersiapkan diri untuk perjalanan yang selama ini hanya menjadi mimpi.

Air Mata Bahagia di Depan Ka’bah

Tahun 2019 menjadi momen yang tidak pernah dilupakan Wa Ode Faeda. Untuk pertama kalinya, ia menginjakkan kaki di Tanah Suci. Ia berangkat seorang diri tanpa didampingi keluarga.

Tak lama setelah kepulangannya ke Indonesia, pandemi Covid-19 melanda dunia dan perjalanan umrah sempat dihentikan. Namun pengalaman pertama itu meninggalkan kerinduan yang mendalam.

Baca Juga :  Daun Tidak Bergerak Saat Lebaran, Mitos atau Fakta?

“Kalau sudah pernah ke sana, pasti ingin lagi,” ujarnya.

Kerinduan tersebut akhirnya membawanya kembali menunaikan umrah untuk kedua kalinya setelah pandemi berakhir. Ia bahkan memilih paket dengan fasilitas yang lebih nyaman.

“Saya ambil yang hotelnya dekat. Menyeberang sedikit sudah sampai ke Ka’bah,” katanya.

Momen paling mengharukan terjadi dua hari sebelum kepulangannya ke Indonesia. Saat melihat matahari mulai tenggelam di langit Makkah, air matanya tiba-tiba mengalir. Orang-orang di sekitarnya bertanya mengapa ia menangis.

“Saya bilang saya bahagia. Saya ini orang miskin. Di lorong saya banyak orang kaya, banyak yang uangnya lebih dari saya. Mereka beli beras satu karung, saya beli di kantong. Tapi Alhamdulillah saya bisa umrah dua kali,” kenangnya.

Niat yang Mengalahkan Keterbatasan

Bagi Wa Ode Faeda, perjalanan ke Tanah Suci tidak semata-mata soal uang. Ia percaya bahwa niat dan kesungguhan memiliki peran besar dalam mewujudkan impian.

Selama tiga tahun ia menabung tanpa pernah mengganggu uang yang telah disisihkan. Sedikit demi sedikit, hasil jualan bensin yang tampak sederhana berubah menjadi tiket menuju Makkah.

Menurutnya, banyak orang memiliki penghasilan besar tetapi belum tentu bisa berangkat jika belum memiliki niat yang kuat.

“Biar banyak uangmu, kalau tidak ada niat dan belum ada panggilan dari Allah, belum tentu bisa pergi ke sana,” ujarnya.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *