TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Fenomena dedaunan yang tampak tidak bergerak menjelang salat Id pada Idulfitri maupun Iduladha kembali menjadi perbincangan masyarakat.
Banyak yang menganggapnya sebagai tanda alam yang istimewa, bahkan tidak sedikit yang mengaitkannya dengan nilai spiritual di hari raya.
Namun, benarkah fenomena itu merupakan kejadian luar biasa? atau hanya persepsi yang diperkuat suasana lebaran?
Fenomena yang Dianggap Tidak Biasa
Di sejumlah daerah di Indonesia, masyarakat kerap menyebut bahwa sebelum salat Id dimulai, suasana menjadi sangat hening. Pepohonan terlihat diam tanpa adanya gerakan daun, seolah-olah alam ikut “tenang” menyambut hari kemenangan.
Fenomena itu biasanya terjadi pada rentang waktu pukul 05.30 hingga 06.30 pagi, tergantung waktu pelaksanaan salat Id di masing-masing daerah.
Data Ilmiah: Angin Pagi Memang Sangat Lemah
Menurut kajian Meteorologi, kondisi atmosfer di pagi hari memang cenderung stabil.
Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kecepatan angin pagi hari umumnya berada di kisaran 0–5 km/jam.
Kategori itu termasuk angin tenang (calm wind), terjadi karena belum adanya pemanasan matahari yang cukup untuk memicu pergerakan udara.
BMKG menjelaskan, angin terbentuk akibat perbedaan tekanan udara. Pada malam hingga pagi hari, suhu permukaan bumi menurun sehingga perbedaan tekanan kecil dan angin menjadi sangat lemah.
Kondisi tersebut menyebabkan daun tidak mendapatkan dorongan angin, serta gerakan daun menjadi sangat minim atau tidak terlihat
Perspektif Agama: Tidak Ada Dalil Khusus
Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa seluruh kejadian di alam berada dalam pengetahuan-Nya, termasuk hal kecil seperti daun yang jatuh (QS. Al-An’am: 59).
Namun, tidak terdapat ayat maupun hadits yang secara khusus menyebutkan bahwa dedaunan berhenti bergerak sebelum salat Id.
Para ulama umumnya menilai bahwa fenomena itu merupakan hasil pengamatan alam yang kemudian berkembang menjadi kepercayaan masyarakat.
Faktor Psikologis: Suasana Lebaran yang Berbeda
Selain faktor ilmiah, para ahli juga menilai adanya pengaruh psikologis.
Yaitu, aktivitas masyarakat masih minim di pagi hari, lingkungan lebih sunyi dibanding hari biasa, serta suasana ibadah membuat orang lebih fokus dan peka. Kondisi itu membuat hal yang sebenarnya normal—seperti angin yang lemah—terasa lebih istimewa.
Kesimpulan
Fenomena “daun tidak bergerak saat Lebaran” merupakan kombinasi antara kondisi atmosfer yang stabil di pagi hari dan persepsi manusia yang lebih peka terhadap lingkungan.
Alih-alih menjadi tanda mistis, kejadian itu justru menunjukkan bagaimana sains dan pengalaman manusia dapat saling melengkapi dalam memahami alam.
Penulis: Tim Redaksi
