TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Bank Indonesia (BI), Perum Bulog dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Kejati Sultra) berkolaborasi menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai upaya membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (11–12 September 2026) di pelataran tugu eks MTQ Kendari itu merupakan inisiatif Kejati Sultra dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kejaksaan. Kegiatan dibuka langsung oleh Wali Kota Kendari dan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.
Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan (Ketapang) Kota Kendari, Abdul Rauf mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi pemerintah daerah dengan lembaga vertikal untuk menghadirkan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.
Menurutnya, Gerakan Pangan Murah juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Kota Kendari saat ini mencapai 7,78 persen dan berada di posisi ketiga, dengan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat menjadi salah satu faktor yang turut berkontribusi.
“Gerakan pangan murah ini benar-benar langsung menyentuh masyarakat. Kita melihat interaksi ekonomi di tingkat bawah juga ikut bergerak melalui kegiatan seperti ini,” ujar Abdul Rauf.
Lanjutnya, sepanjang 2026, Pemkot Kendari melalui Dinas Ketapang telah menggelar Gerakan Pangan Murah sebanyak 110 kali. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 150 kali sampai akhir tahun, setelah pada 2025 tercatat sebanyak 120 kali.
Abdul Rauf mengatakan, frekuensi kegiatan terus bertambah karena pelaksanaannya tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga melibatkan pihak swasta dan lembaga vertikal yang turut menggandeng Pemkot Kendari.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh sejumlah kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah. Beras yang harga normalnya sekitar Rp65.000 per kemasan dijual Rp50.000 melalui kerja sama dengan Perum Bulog.
Sementara itu, bawang merah dijual sekitar Rp35.000 per kilogram, bawang putih Rp40.000 per kilogram dan minyak goreng sekitar Rp10.000. Antusiasme masyarakat disebut cukup tinggi, terutama untuk komoditas beras, minyak dan gula.
Abdul Rauf menjelaskan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti bawang dan cabai tidak hanya dipengaruhi ketersediaan stok, tetapi juga faktor distribusi. Sebagian pasokan komoditas tersebut masih didatangkan dari luar daerah sehingga biaya distribusi ikut memengaruhi harga.
Di sisi lain, Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejati Sultra, Agung Sugiharto mengatakan, gerakan pangan murah merupakan bentuk kepedulian bersama untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
“Alhamdulillah, ini merupakan bukti bahwa kita hadir bersama masyarakat untuk membantu masyarakat,” ujar Agung.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi Pemkot Kendari, Perum Bulog, Bank Indonesia dan pelaku usaha. Sinergi lintas sektor itu diharapkan dapat terus diperkuat sehingga Gerakan Pangan Murah tidak hanya membantu menjaga keterjangkauan harga, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.(*)
Laporan: Ismu
