TOLANOSULTRA.COM, KOLAKA UTARA – Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) menjadi salah satu tumpuan utama produksi kakao di Sulawesi Tenggara (Sultra). Daerah ini memiliki areal perkebunan kakao mencapai 78.969 hektare dengan produksi sekitar 62.260 ton per tahun.
Angka tersebut menyumbang sekitar 61 persen dari total produksi kakao Sultra. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra mendorong percepatan pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas kakao.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan besarnya potensi kakao harus diikuti dengan penguatan ekosistem usaha agar peningkatan produksi juga berdampak terhadap kesejahteraan petani.
Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) Komoditas Kakao kemudian dikembangkan bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara dan sejumlah industri jasa keuangan. Program tersebut menyasar sekitar 28.784 keluarga petani yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kakao.
Menurut Bismi, penguatan sektor kakao tidak cukup hanya dengan memberikan akses pembiayaan. Petani juga membutuhkan pendampingan budidaya, perlindungan terhadap risiko serta akses pasar yang lebih pasti.
Karena itu, OJK mempertemukan berbagai pihak dalam satu ekosistem, termasuk lembaga pembiayaan, perusahaan asuransi, BPJS Ketenagakerjaan, penyuluh pertanian, kelompok tani hingga offtaker.
“Ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa banyak tanda tangan yang dibubuhkan hari ini, tetapi bagaimana kondisi kebun menjadi jauh lebih produktif dan dompet para petani menjadi lebih tebal pada tahun-tahun mendatang,” ujar Bismi.
Ia berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan kerja sama administratif, tetapi benar-benar meningkatkan produktivitas kebun dan pendapatan petani dalam jangka panjang.
Penguatan kakao Kolaka Utara juga diarahkan untuk mengurangi berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani, seperti keterbatasan akses pembiayaan formal, risiko gagal panen akibat cuaca dan ketergantungan terhadap pinjaman tidak resmi.
Dengan potensi produksi yang besar, Bismi menilai pengembangan kakao perlu dilakukan secara berkelanjutan agar komoditas tersebut semakin kuat menjadi penggerak ekonomi masyarakat Kolut.(*)
Laporan: Ismu
