TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat lonjakan kasus HIV/AIDS pada triwulan I 2026.
Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Sultra, Andi Edy Surahmat mengungkapkan bahwa saat ini terjadi pergeseran pola penularan. Jika sebelumnya didominasi pekerja seks perempuan, kini kasus terbanyak justru berasal dari kelompok homoseksual.
Dari total 123 kasus yang ditemukan sepanjang Januari hingga Maret, Kendari menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Sedangkan menurut populasinya, kasus tersebut didominasi kelompok lelaki sesama lelaki (LSL) sebanyak 63 kasus, sementara pekerja seks perempuan sebanyak 19 kasus.
“Data terbaru menunjukkan kasus terbanyak berasal dari homoseksual,” ujarnya saat ditemui di kantornya pada Rabu (29/4/2026).
Secara rinci, Kendari mencatat 59 kasus, dengan 55 orang telah menjalani pengobatan dan 3 kasus kematian. Tingginya angka itu menjadikan ibu kota provinsi tersebut sebagai episentrum penyebaran HIV di Sultra, meski tingkat akses pengobatan tergolong cukup tinggi.
Di urutan berikutnya, Baubau mencatat 11 kasus, dengan 6 pasien dalam pengobatan dan 1 kematian. Sementara Wakatobi melaporkan 8 kasus dengan 2 kematian, menjadikannya daerah dengan rasio kematian cukup tinggi dibanding jumlah kasus.
Beberapa daerah lain juga menunjukkan penyebaran yang perlu diwaspadai. Kolaka mencatat 7 kasus, sedangkan Konawe Selatan dan Kolaka Timur masing-masing mencatat 6 kasus, Muna 5 Kasus. Kabar baiknya, sebagian besar pasien di wilayah tersebut telah menjalani pengobatan.
Di sisi lain, sejumlah daerah mencatat kasus yang relatif rendah, seperti Kolaka Utara 3 kasus, Bombana dengan 2 kasus, serta Konawe dan Muna Barat yang masing-masing hanya 1 kasus. Bahkan, Konawe Kepulauan dan Konawe Utara belum melaporkan kasus baru pada periode ini.
Untuk wilayah kepulauan Buton, distribusi kasus terbilang variatif. Buton mencatat 4 kasus, Buton Tengah 5 kasus dengan 1 kematian, serta Buton Utara 4 kasus dengan 1 kematian. Adapun Buton Selatan hanya mencatat 1 kasus.
Menurut dr Edy, tingginya mobilitas penduduk menjadi faktor utama penyebaran. Baubau sebagai daerah transit dengan aktivitas pelabuhan yang padat memiliki risiko tinggi, sementara Kendari sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan menjadi titik konsentrasi kasus.
Sebagai langkah penanganan, Dinkes mendorong penguatan edukasi dan sosialisasi di seluruh kabupaten/kota. Selain itu, pihaknya mengusulkan kolaborasi dengan Balai Karantina Kesehatan untuk melakukan skrining terhadap pendatang, khususnya tenaga kerja dari luar daerah yang masuk ke Sultra.
Upaya edukasi juga difokuskan pada kelompok berisiko melalui pendekatan langsung. Materi yang disampaikan mencakup cara penularan HIV, pentingnya deteksi dini, serta penerapan perilaku hidup sehat. Tenaga medis, tokoh agama, dan masyarakat dilibatkan untuk memperkuat pesan sosial.
Penulis: Tim Redaksi
