Ratusan Tahun Jadi Identitas Buton, Disperindag Sultra Dorong Tenun Wabula Naik Kelas

Disperindag Sultra mendorong Tenun Wabula yang menjadi identitas Buton untuk naik kelas melalui pelatihan 50 penenun, bantuan bahan baku, inovasi produk, dan digital marketing. (Istimewa)

TOLANOSULTRA.COM, PASARWAJO – Tenun Wabula bukan sekadar kain tradisional bagi masyarakat Buton. Warisan yang telah bertahan selama ratusan tahun itu kini didorong untuk berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

Upaya tersebut dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan memperkuat kapasitas para penenun di Desa Wabula, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Sebanyak 50 penenun mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengrajin Tenun Sentra Wabula yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 Agustus 2026. Program itu merupakan kolaborasi Disperindag Sultra, Disperindag Buton dan Dekranasda Kabupaten Buton.

Kepala Disperindag Sultra, Sukanto Toding mengatakan, pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kemampuan menenun. Pemerintah ingin mendorong para pengrajin mengolah bahan baku menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Investasi Sultra Tembus Rp13,1 Triliun pada Triwulan I 2026, Serap 4.437 Tenaga Kerja

“Bagaimana penenun mampu menciptakan benang menjadi produk bernilai tinggi, sehingga mampu meningkatkan capacity building penenun, daya saing produk, serta berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Sukanto.

Untuk mendukung target tersebut, peserta dibekali materi desain dan inovasi produk, teknik produksi dan jaminan mutu, hingga branding, packaging, dan digital marketing. Pengetahuan tersebut diharapkan membuat produk Tenun Wabula semakin adaptif terhadap selera konsumen dan perkembangan pasar.

Penguatan produksi juga dilakukan melalui penyerahan bantuan benang kepada 50 penenun. Bantuan bahan baku itu diharapkan dapat langsung dimanfaatkan untuk mempraktikkan keterampilan yang diperoleh sekaligus menjaga kesinambungan produksi setelah pelatihan selesai.

Baca Juga :  Stadion Lakidende Tertunda, Pemprov Sultra Alihkan Anggaran ke Revitalisasi Fasilitas Olahraga

Salah seorang pengrajin, Wa Ode Sitti mengaku terbantu dengan program tersebut. Selain memperoleh pengetahuan baru, bantuan bahan baku dinilai dapat meringankan kebutuhan produksi. Ia bahkan berencana mengembangkan tas berbahan tenun untuk dipasarkan melalui kanal digital.

Ketua Dekranasda Kabupaten Buton, Maimuna Moko mengatakan, perkembangan Tenun Wabula harus tetap berpijak pada nilai sejarah dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Namun, para pengrajin juga dituntut mampu mengikuti perubahan zaman.

“Tenun Wabula sudah ada sejak ratusan tahun dan menjadi identitas Buton. Tapi kita tidak boleh berhenti di situ. Pengrajin harus melek desain, melek digital, dan melek pasar,” katanya.

Ke depan, Disperindag Sultra menyiapkan pendampingan lanjutan, mulai dari pemantauan produksi dan penjualan, fasilitasi legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga promosi dan pameran. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan omzet pengrajin, membangun brand kolektif Tenun Wabula, sekaligus membuka peluang kerja bagi perempuan dan generasi muda.

Baca Juga :  BPBD Sultra Imbau Pemda Kabupaten/Kota Laporkan Setiap Kejadian Bencana ke Provinsi

Anggota DPRD Sultra Dapil IV Kepulauan Buton, Suwandi Andi turut mendukung pengembangan Sentra Tenun Wabula. Ia menilai penguatan industri tenun dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkokoh Tenun Wabula sebagai produk unggulan daerah.

Ia juga menyatakan komitmennya mengawal program pemerintah yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui pengembangan potensi ekonomi lokal di wilayah Kepulauan Buton. (*)

Laporan: Ismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *