TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah terus mendorong agar dunia kewirausahaan tidak hanya menjadi ruang bagi kelompok tertentu. Pesan itu mengemuka dalam Layanan Kewirausahaan Inklusif 2026 yang digelar Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Kendari, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Wirausaha Inklusif, Tumbuh Bersama” tersebut diikuti 91 peserta. Sebanyak 44 peserta merupakan penyandang disabilitas, sementara 47 peserta lainnya berasal dari masyarakat umum yang telah memiliki rintisan usaha.
Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Dr Sugeng Heri Suseno menegaskan, kewirausahaan inklusif harus diwujudkan melalui kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan lebih berkualitas apabila manfaatnya dapat dirasakan tanpa membedakan kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
“Keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu membuka kesempatan bagi semua orang untuk berkembang, berkarya, dan memperoleh manfaat yang sama,” ujar Sugeng.
Ia secara khusus menyoroti potensi penyandang disabilitas dalam dunia usaha. Menurut Sugeng, keterbatasan fisik tidak boleh lagi dipandang sebagai keterbatasan produktivitas karena banyak penyandang disabilitas memiliki keterampilan, kreativitas, dan kemampuan untuk membangun usaha secara mandiri.
Karena itu, ia mendorong perubahan pendekatan dari sekadar belas kasih menuju pemberdayaan. Penyandang disabilitas harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki kesempatan untuk berkontribusi terhadap perekonomian, termasuk menjadi pelaku UMKM dan pencipta lapangan kerja.
“Sudah saatnya kita mengubah cara pandang dari pendekatan belas kasih menjadi pendekatan pemberdayaan. Penyandang disabilitas bukan objek pembangunan, tetapi memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Sugeng juga mengingatkan para peserta agar tidak tertinggal dalam menghadapi transformasi digital. Menurutnya, kemampuan memanfaatkan teknologi, memperbaiki kualitas produk, memperkuat kemasan, mengurus legalitas usaha, sertifikasi halal, keamanan pangan hingga perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing.
Kepala BPKK Kendari, Dr Mashur Malaka mengatakan, kegiatan tersebut dirancang sebagai pusat dukungan bagi pelaku usaha pemula maupun pelaku usaha yang sedang berkembang. Layanan yang diberikan tidak sebatas informasi, tetapi juga mencakup pendampingan teknis dan akses terhadap sumber daya strategis.
Mashur menjelaskan, BPKK Kendari ingin membangun ruang kewirausahaan yang dapat mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, pemuda, dan pelaku usaha dari kelompok yang selama ini belum banyak terwakili.
“Semangatnya adalah membuka akses kewirausahaan seluas-luasnya bagi semua kalangan dan membangun budaya kolaborasi di antara pelaku usaha,” kata Mashur.
Menurutnya, konsep “Tumbuh Bersama” juga diarahkan untuk membangun jejaring antarpelaku usaha. Dengan jaringan tersebut, pelaku UMKM dapat saling berbagi pengalaman, memperluas pasar, bahkan membuka peluang kerja sama dalam pengadaan maupun pemasaran produk.
BPKK Kendari juga mendorong peserta meningkatkan kompetensi agar usaha yang dirintis tidak berhenti pada skala kecil. Literasi digital, pengelolaan keuangan, pemasaran, inovasi produk dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi bagian penting untuk membangun usaha yang berkelanjutan.
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr Husain Insawan dan Dr La Harjoprawiro sebagai narasumber/fasilitator. Peserta mendapatkan ruang untuk menambah wawasan, bertukar pengalaman sekaligus membangun jejaring dengan sesama pelaku usaha.(*)
Laporan: Ismu
