Daerah  

Juli 2026, Sultra Catat Deflasi Pertama Sejak November 2025

Sultra mencatat deflasi 0,19 persen pada Juli 2026, pertama sejak November 2025. BPS menyebut penurunan harga pangan menjadi faktor utama deflasi. (Istimewa)

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat deflasi bulanan(month-to-month/m-to-m) sebesar 0,19 persen pada Juli 2026, sekaligus menjadi deflasi pertama sejak November 2025.

Meski demikian, secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) Sultra masih mengalami inflasi sebesar 3,43 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 4,35 persen. Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra dalam rilis perkembangan inflasi Juli 2026.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto menjelaskan, deflasi bulanan itu dipengaruhi oleh turunnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi 0,95 persen dengan andil 0,32 persen.

Penurunan harga juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat deflasi 0,82 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,14 persen.

Baca Juga :  BPS Tegaskan Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Menarik Pajak Pelaku Usaha

Komoditas yang paling besar menekan inflasi pada Juli 2026 antara lain tomat, ikan selar atau ikan tude, bayam, bahan bakar rumah tangga, kacang panjang, sawi hijau, cabai rawit, hingga ikan layang.

“Penurunan harga komoditas tersebut menjadi faktor utama yang membawa Sultra mengalami deflasi bulanan,” ungkap Hadi.

Di sisi lain, inflasi tahunan Sultra masih berada pada level 3,43 persen. Kenaikan harga sepanjang satu tahun terakhir terutama dipicu oleh kelompok transportasi dengan inflasi 6,98 persen dan memberikan andil terbesar sebesar 1,06 persen.

Baca Juga :  Sambangi Kedubes Arab Saudi, Wali Kota Dorong 1.000 Pengajar Al-Qur’an untuk Kendari

Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga masih menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,73 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,68 persen.

BPS mencatat, komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan di Sultra adalah emas perhiasan, angkutan udara, bensin, minyak goreng, serta bahan bakar rumah tangga. Sebaliknya, penurunan harga tomat, cabai rawit, beras, kangkung, dan telur ayam ras membantu meredam laju inflasi.

Jika ditinjau menurut kabupaten dan kota, Kabupaten Kolaka menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Sultra, yakni 4,57 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 115,56. Sementara Kabupaten Konawe mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 1,49 persen.

Baca Juga :  BPJS-Pemkot Kendari Genjot Validasi PBI

Adapun Kota Kendari mengalami inflasi tahunan 3,82 persen, sedangkan Kota Baubau sebesar 3,03 persen. Khusus di Kabupaten Kolaka, komoditas yang paling besar menyumbang inflasi tahunan adalah emas perhiasan dengan andil 1,53 persen, disusul ikan cakalang/ikan sisik sebesar 0,66 persen, dan udang basah sebesar 0,59 persen.

Hadi Susanto mengatakan, perkembangan inflasi Juli menunjukkan adanya perbaikan dibanding bulan sebelumnya. Meski terjadi penurunan harga secara bulanan, tekanan inflasi tahunan masih dipengaruhi oleh sektor transportasi dan sejumlah komoditas strategis. Karena itu, stabilisasi pasokan pangan dan pengendalian harga komoditas utama tetap menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi Sultra tetap terkendali pada bulan-bulan berikutnya.(*)

Laporan: Ismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *