TOLANOSULTRA.COM, BAUBAU – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf mulai menjajaki peluang produk perikanan Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi bagian dari kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi haji yang memberikan manfaat langsung bagi daerah.
Gagasan tersebut disampaikan Menteri Haji saat meninjau proses pengolahan ikan di PT Buton Indo Tuna, Kota Baubau pada Sabtu (11/7/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat langsung tahapan produksi mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses pengemasan sebelum dipasarkan.
Menurut Mochamad Irfan Yusuf, Presiden RI Prabowo Subianto berharap penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya berorientasi pada pelayanan jemaah, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian nasional melalui pemanfaatan produk-produk unggulan daerah.
“Ada satu harapan yang kami bawa dari Presiden Prabowo, yaitu agar ekosistem haji bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat Indonesia. Karena itu kami berpikir bagaimana bahan makanan yang dikonsumsi jemaah haji dapat dipasok dari Indonesia. Hari ini kami melihat langsung proses pengolahan ikan di sini untuk mengkaji kemungkinan produk ini menjadi salah satu bahan konsumsi jemaah haji,” ujar Irfan Yusuf.

Ia menilai, dari sisi kualitas produk, hasil perikanan Sultra memiliki potensi untuk menembus pasar Arab Saudi. Namun, pemerintah masih harus mengkaji sejumlah aspek teknis sebelum rencana tersebut dapat direalisasikan.
Mulai dari sistem pengemasan, distribusi, hingga pemenuhan standar dan regulasi yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi menjadi faktor penting yang harus dipenuhi agar produk lokal dapat masuk ke rantai pasok konsumsi jemaah haji.
“Secara produk saya kira sangat memungkinkan. Yang perlu dibahas sekarang adalah aspek teknis seperti pengiriman, packaging, serta aturan yang berlaku di Arab Saudi. Kita harus memastikan kemampuan kita memenuhi seluruh persyaratan tersebut,” jelasnya.
Menteri Haji menambahkan, Sultra memiliki kekuatan besar di sektor kelautan sehingga berpeluang menjadi salah satu daerah pemasok produk laut bagi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia.
Sementara itu, daerah lain dapat berkontribusi melalui komoditas unggulan masing-masing, seperti hasil pertanian maupun produk pangan lainnya. Seluruh potensi tersebut nantinya akan dipetakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengembangan ekosistem ekonomi haji.
Untuk menindaklanjuti rencana tersebut, Kementerian Haji dan Umrah akan menugaskan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji untuk melakukan pembahasan lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan.
Kajian itu diharapkan mampu melahirkan skema kerja sama yang tidak hanya memperkuat penyelenggaraan ibadah haji, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi produk unggulan Indonesia, khususnya hasil perikanan dari Sultra.
Laporan: Ismu
