TOLANOSULTRA.COM, KOLAKA – Hasil pemantauan hilal yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kemenag Sulawesi Tenggara (Sultra) dan instansi terkait menunjukkan bahwa peluang terlihatnya hilal di wilayah Sultra tergolong sangat kecil.
Pemantauan tersebut dilakukan di Pantai Bahari, Kelurahan Anaiwoi, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka pada Kamis (19/3/2026).
Berdasarkan data hasil pemantauan yang dirilis BMKG, posisi hilal saat matahari terbenam masih berada sangat rendah, yakni hanya sekitar 1,65 derajat di atas ufuk.
Selain itu, jarak sudut antara bulan dan matahari (elongasi) tercatat 4,47 derajat, dengan umur bulan sekitar 8 jam 41 menit setelah konjungsi.
PMG Muda BMKG Stasiun Geofisika, Ilham, menjelaskan bahwa kondisi tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal secara umum.
“Secara parameter astronomis, ketinggian hilal masih terlalu rendah dan elongasinya juga kecil. Ini menyebabkan kontras cahaya bulan terhadap langit senja sangat lemah, sehingga sulit diamati,” ujar Ilham.
Ia menambahkan, meskipun secara geometris bulan sudah berada di atas horizon saat matahari terbenam, waktu kebersamaannya dengan matahari di langit (lag time) hanya sekitar 8 menit 90 detik sebelum akhirnya ikut terbenam.
“Dengan durasi yang sangat singkat itu, praktis peluang pengamatan hilal secara visual hampir tidak ada, kecuali dengan alat optik canggih dan kondisi langit yang sangat ideal,” lanjutnya.
Dalam ilustrasi yang dirilis BMKG, terlihat posisi matahari sudah berada di bawah ufuk saat hilal masih sangat dekat dengan garis horizon. Hal itu memperkuat analisis bahwa cahaya hilal belum cukup terang untuk dibedakan dari cahaya senja.
Pemantauan hilal itu menjadi bagian penting dalam penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Namun demikian, Ilham menegaskan bahwa keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang mempertimbangkan data hisab dan rukyat dari berbagai lokasi di Indonesia.
Penulis: Tim Redaksi
