Sultra Jadi Bintang Baru Ekonomi Indonesia Timur

Sepanjang 2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,79 persen, melampaui capaian tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata nasional. 

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) kian mengukuhkan diri sebagai episentrum pertumbuhan baru di kawasan Indonesia Timur.

  • Sepanjang 2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,79 persen, melampaui capaian tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata nasional.

Laju tersebut bahkan meningkat pada triwulan IV dengan angka 5,94 persen, menandakan fondasi ekonomi yang semakin kokoh.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sultra, Edwin Permadi menyebut, kebangkitan itu ditopang transformasi sektor keuangan dan percepatan ekonomi digital.

Ekspansi kredit perbankan yang agresif berpadu dengan melonjaknya transaksi non-tunai membuat perputaran ekonomi masyarakat jauh lebih dinamis.

Baca Juga :  SERAMBI 2026, Kuota Tukar Uang Dibuka Dua Tahap

“Digitalisasi pembayaran dan akses pembiayaan menjadi game changer. Aktivitas usaha lebih hidup, konsumsi terjaga, dan investasi bergerak lebih cepat,” ujarnya dalam Bincang Bareng Media di Kendari, Senin (9/2/2026).

Efek rambatan pertumbuhan terlihat pada sektor riil. Bidang akomodasi serta makan minum ikut terdorong oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan padatnya agenda nasional yang digelar di Sultra.

Aktivitas berbasis internet membuat sektor informasi dan komunikasi terus menanjak, mempertegas peran ekonomi digital sebagai tulang punggung baru daerah.

Dari sisi permintaan, geliat investasi menjadi cerita utama. Pembangunan kawasan industri, infrastruktur pendukung, hingga fasilitas pendidikan meningkatkan pembentukan modal tetap bruto.

Baca Juga :  Langkah Mudah Tukar Uang Rusak Jadi Uang Baru

Daya beli rumah tangga tetap solid sehingga konsumsi masyarakat mampu menjaga ritme pertumbuhan. Meski demikian, kinerja masih menghadapi tantangan akibat melemahnya ekspor besi baja serta berkurangnya impor bahan bakar minyak.

Memasuki 2026, dinamika harga mulai memberi tekanan. Inflasi Januari tercatat 0,69 persen, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya dan berlawanan dengan kondisi nasional yang mengalami deflasi.

Kenaikan harga emas perhiasan akibat ketidakpastian global menjadi penyumbang terbesar, disusul naiknya harga ikan laut karena cuaca ekstrem yang membatasi aktivitas nelayan.

Menghadapi situasi itu, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra bergerak cepat menyiapkan langkah stabilisasi menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Baca Juga :  TPID dan BI Sultra Amankan Pasokan Pangan

Program Gerakan Pangan Murah digelar di delapan kabupaten/kota, didukung fasilitasi distribusi dan penguatan rantai pasok. Optimalisasi Kios Pangan di Kendari juga diperluas untuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok tetap aman.

Dengan kombinasi investasi yang menguat, ekosistem digital yang berkembang, serta daya beli yang terjaga, Sultra diproyeksikan terus menjadi bintang baru ekonomi Indonesia Timur.

Tantangan tetap ada, namun momentum pertumbuhan diyakini mampu membawa Sultra melangkah lebih kompetitif pada tahun-tahun mendatang.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *