TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Berhasil melewati persaingan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, tiga siswa SMA Negeri 1 Kendari memastikan diri melaju ke Final Nasional Cerdas Cermat APBN 2026.
Ketiganya adalah Muh. Hanif Nazmi Khairullah dari kelas XII.G1, Muh. Rifky Saputra (XII.B1), dan Muhammad Aidil Rozzaq Afgani (XII.A1). Mereka menjadi satu tim yang membawa nama sekolah sekaligus Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam kompetisi tingkat nasional tersebut.
Tim SMAN 1 Kendari itu dijadwalkan mengikuti Final Nasional Cerdas Cermat APBN 2026 pada 11 November 2026 di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.
Perjalanan menuju babak final tidak mudah. Mereka harus bersaing dengan 4.174 tim yang mengikuti Olimpiade APBN 2026 tingkat SMA/SMK/MA dan sederajat. Kompetisi yang diselenggarakan Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di bawah naungan Kementerian Keuangan itu membagi peserta ke dalam empat wilayah regional.
Dari ribuan peserta, hanya 96 tim terbaik yang berhak melanjutkan persaingan ke semifinal regional. Masing-masing regional mengirimkan 24 tim setelah melewati tahap penyisihan secara daring menggunakan sistem Computer Based Test (CBT).

Anggota tim, Muh. Rifky Saputra menjelaskan, pada tahap penyisihan peserta harus menyelesaikan sekitar 75 soal dengan beragam bentuk. Materi yang diujikan mencakup pertanyaan benar-salah hingga soal berbasis studi kasus.
Khusus di Sultra, sekitar lima tim berhasil lolos dari penyisihan. Tim SMAN 1 Kendari menjadi satu-satunya tim dari sekolah tersebut yang berhasil melewati tahap awal kompetisi.
Tantangan berikutnya hadir pada semifinal regional yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom. Sebanyak 24 tim dibagi ke dalam empat breakout room, masing-masing berisi sekitar lima hingga enam tim.
“Hanya satu tim dari setiap ruangan yang berhak melaju ke final regional,” ungkap Rifky saat ditemui beberapa waktu lalu di sekolahnya.
Sementara itu, Muh. Hanif Nazmi Khairullah menambahkan bahwa semifinal berlangsung dalam empat babak dengan mekanisme soal dan penilaian yang berbeda. Pada sejumlah babak, peserta diwajibkan menjawab pertanyaan, sementara mekanisme lainnya menerapkan pengurangan poin jika jawaban yang diberikan salah.
Tim SMAN 1 Kendari sempat berada dalam posisi tertinggal dari salah satu pesaing. Namun, jawaban benar pada pertanyaan terakhir mengubah perolehan nilai. Saat tim mereka mendapat tambahan poin, lawan justru kehilangan nilai akibat jawaban yang keliru. Hasil tersebut menjadi penentu keberhasilan mereka melangkah ke final regional.
Di babak final regional, tim SMAN 1 Kendari harus bersaing dengan sejumlah sekolah dari wilayah lain, di antaranya SMAN 5 Makassar, SMAN 2 Bitung, dan SMAN 2 Palopo. Peserta menghadapi soal studi kasus, perhitungan, hingga pertanyaan yang harus dijawab secara langsung.
Tingkat kesulitan soal pada tahap tersebut terbilang menantang. Para peserta dituntut memahami berbagai istilah dalam APBN, menguasai materi modul pembelajaran, menyelesaikan perhitungan, serta menganalisis persoalan melalui studi kasus.

Guru pembimbing, La Mindi, mengatakan persiapan tim dilakukan dengan berpedoman pada modul Olimpiade APBN yang diterbitkan Kementerian Keuangan. Materi tersebut kemudian diperdalam dengan mengikuti perkembangan data APBN terbaru agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca kondisi anggaran terkini.
Menurut La Mindi, pendampingan relatif terbantu karena materi APBN, kebijakan fiskal, dan perpajakan telah menjadi bagian dari pembelajaran Ekonomi di SMAN 1 Kendari. Karena itu, pembinaan lebih diarahkan pada pendalaman materi dan latihan berdasarkan modul resmi penyelenggara.
“Sebelum mengikuti kompetisi, ketiga siswa menjalani karantina belajar selama kurang lebih satu minggu,” ujarnya.
La Mindi mengaku bangga atas capaian mereka yang berhasil melewati tahapan regional. Untuk menghadapi babak nasional, sekolah berencana kembali menggelar karantina sebelum keberangkatan ke Jakarta.
Laporan: Ismu
