Angkatan Kerja Sultra Berkurang 42 Ribu Orang, Pengangguran Justru Naik

BPS mencatat angkatan kerja Sultra berkurang 42,66 ribu orang pada Agustus 2026. TPT naik menjadi 3,52 persen, sementara jumlah penduduk bekerja ikut menyusut.

TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mencapai 5,79 persen pada Triwulan III-2026 belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan. Jumlah angkatan kerja justru mengalami penurunan, sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) menunjukkan peningkatan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Hadi Susanto mengatakan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 1,44 juta orang.

“Angka tersebut menyusut 42,66 ribu orang dibandingkan Agustus 2025,” tuturnya.

Penurunan juga terjadi pada jumlah penduduk yang bekerja. Pada Agustus 2026, tercatat sebanyak 1,39 juta orang memiliki pekerjaan atau berkurang 44,17 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Di Sultra, Pengeluaran Bulanan di Bawah Rp536 Ribu per Orang Tergolong Miskin

Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sultra justru mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen poin. Jika pada Agustus 2025 berada di angka 3,31 persen, pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,52 persen.

Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 68,35 persen. Capaian ini turun 3,32 persen poin dibandingkan Agustus 2025, mengindikasikan berkurangnya proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi, baik bekerja maupun mencari pekerjaan.

Baca Juga :  Ekonomi Sultra Tumbuh 5,79 Persen pada Triwulan III-2026, Industri Pengolahan Jadi Pendorong

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung lapangan pekerjaan di Sultra. Sektor ini menyerap 34,17 persen dari total penduduk yang bekerja.

Perdagangan menempati urutan berikutnya dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja sebesar 14,65 persen. Disusul administrasi pemerintahan yang menyerap 8,90 persen tenaga kerja.

Persoalan kualitas pekerjaan juga terlihat dari masih dominannya sektor informal. BPS mencatat sebanyak 821,66 ribu orang atau 59,12 persen penduduk bekerja di Sultra berstatus sebagai pekerja informal.

Baca Juga :  Bank Sultra Siapkan 100 Rumah Subsidi untuk ASN, Bunga KPR Hanya 5 Persen

Meski demikian, proporsi pekerja informal mengalami penurunan 2,01 persen poin dibandingkan Agustus 2025. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan komposisi status pekerjaan di tengah dinamika pasar tenaga kerja daerah.

Selain itu, tingkat setengah pengangguran meningkat 1,03 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, tingkat pekerja paruh waktu mengalami penurunan sebesar 2,09 persen poin.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ketenagakerjaan Sultra tidak hanya berkaitan dengan penurunan jumlah penduduk bekerja dan kenaikan pengangguran, tetapi juga menyangkut ketersediaan serta kualitas lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Laporan: Ismu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *