TOLANOSULTRA.COM, KENDARI – Kebutuhan kendaraan niaga dengan daya angkut lebih besar mendorong penjualan Toyota Hilux Rangga di Sulawesi Tenggara (Sultra). Kendaraan komersial itu semakin diminati pelaku usaha, mulai dari sektor logistik hingga pertambangan dan UMKM.
Kepala Cabang Kalla Toyota Kendari Ahmad Yani, Andi Aswar mengatakan, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari kebutuhan konsumen yang menginginkan kendaraan dengan kapasitas angkut lebih besar dan performa mesin yang lebih bertenaga untuk menunjang aktivitas bisnis.
Tren itu terlihat dari penjualan Hilux Rangga di Kota Kendari yang mencapai 148 unit hingga Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 124 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencatatkan penjualan 66 unit.
Seiring pertumbuhan penjualan, Hilux Rangga juga memperkuat posisinya di segmen pick up medium. Kendaraan itu menguasai 68 persen pangsa pasar di Sultra dan 54 persen di Kota Kendari.
Menurut Andi, sejak diperkenalkan pada 2025, penerimaan pasar terhadap Hilux Rangga terus berkembang. Selain kebutuhan kendaraan yang sesuai dengan karakter usaha, kepercayaan konsumen terhadap merek Toyota turut menjadi salah satu faktor pendorong penjualan.
“Kalau kita bicara pick up medium, Toyota Rangga ini semenjak diluncurkan pada 2025 memang secara signifikan mengalami peningkatan pertumbuhan di tahun 2026. Salah satu alasan utamanya karena segmen konsumen komersial membutuhkan kendaraan dengan kapasitas lebih besar dan kemampuan mesin yang lebih bertenaga,” ujar Andi Aswar.
Dari sisi spesifikasi, Hilux Rangga menawarkan pilihan mesin bensin 2.000 cc dan diesel 2.400 cc. Tersedia pula pilihan transmisi otomatis serta konfigurasi bak yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional pelanggan.
Fleksibilitas tersebut membuat kendaraan itu digunakan untuk beragam aktivitas. Sektor logistik dan ekspedisi menjadi salah satu penyumbang permintaan terbesar, disusul kebutuhan operasional di bidang pertambangan, perkebunan, dan pertanian.
Di kalangan UMKM, Hilux Rangga dimanfaatkan untuk mengangkut berbagai komoditas, seperti ikan, sayuran, buah-buahan, dan kelapa. Kendaraan itu juga digunakan untuk distribusi material serta dapat dimodifikasi menjadi campervan, ambulans, mobil patroli, hingga kendaraan pengangkut sampah.
Andi menjelaskan, sebagian konsumen merupakan pelanggan yang mengganti kendaraan lama atau melakukan pembelian berulang. Mereka umumnya sebelumnya menggunakan pikap kelas bawah, kemudian beralih ke Hilux Rangga karena membutuhkan kapasitas angkut dan tenaga mesin yang lebih besar.
“Lebih banyak memang ke segmen ekspedisi atau logistik yang jarak tempuhnya cukup jauh. Mungkin salah satu alasannya karena kapasitas mesinnya bagus dan lebih bertenaga. Selain itu, pilihan bak dan modifikasi bisa disesuaikan dengan spesifikasi kebutuhan usaha,” jelasnya.
Di Kalla Toyota Kendari Ahmad Yani, penjualan Hilux Rangga rata-rata mencapai 12 hingga 16 unit setiap bulan. Kontribusinya sekitar 10 persen terhadap total penjualan seluruh model Toyota di cabang tersebut.
Melihat perkembangan pasar, Andi memproyeksikan penjualan Hilux Rangga sepanjang 2026 dapat mencapai 210 hingga 220 unit. Proyeksi tersebut didasarkan pada capaian penjualan yang telah mencapai 148 unit hingga Oktober 2026.
Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kendaraan niaga yang fleksibel dan mampu menunjang berbagai jenis usaha menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan pasar pikap medium di Sultra.
Laporan: Ismu
